Recent Articles

Mulai Menulis untuk Keabadian? Kepada Tidak!

picture from creativedigest.net

Menulis bukan hanya sekadar keahlian, tetapi juga bisa menjadi sumber kehidupan. Dalam perjalanan waktu, khususnya sejak manusia mengenal teknologi percetakan modern pada tahun 1800-an, banyak nama yang menjadi terkenal karena menulis. Bahkan, menyandarkan kepulan asap dapurnya dari dunia kepenulisan. Sebut saja Charles Dickens yang namanya abadi hingga kini. Dickens yang lahir pada tahun 1812 masih memengaruhi sastra dan industri kreatif pada abad millennium ini. Banyak film, serial televisi, dan buku yang diangkat dari karyanya.

Sastrawan Indonesia, Pramoedya Anantatoer, pernah berucap jika menulis merupakan pekerjaan menuju keabadian. Manusia sudah pasti akan kembali bersatu dengan Penciptanya, tetapi karya-karyanya tidak akan hilang. Maka, mulailah menulis karena keterampilan yang satu ini sebenarnya sudah dimiliki setiap orang. Hanya perlu diasah dan memiliki komitmen. Berikut tips bagi Anda yang ingin memulai menjadi penulis:

1. Menentukan Ide

Ide merupakan ibu dari suatu karya. Setiap hari, kita menjumpai banyak hal. Beberapa diantaranya bisa menjadi ide menarik untuk dituliskan. Maka, mulainya membuat daftar ide dan pilih satu dari sekian banyak hal yang ada di kepala. Kembangkan ide dengan memetakan pertanyaan 5W+1H (Who, What, When, Where, dan Why)

2. Tentukan Fiksi atau Non-Fiksi

Sebelum memulai menulis, tentukan dulu jenis tulisan yang akan dibuat. Petakan kekuatan Anda. Apakah dalam kepenulisan fiksi atau non-fiksi. Jika masih bingung, Anda bisa mencoba semua bentuk tulisan dan buatlah tabel pendapat yang diisi rekan-rekan Anda. Mintalah mereka untuk jujur pada jenis tulisan apa karya kalian lebih baik. Untuk mempermudahnya, tulisan fiksi lahir dari imajinasi semisal cerita pendek, puisi, novel, dan dongeng. Sementara itu, tulisan non-fiksi diilhami dari fakta seperti biografi, memoar, dan buku panduan atau tips dan trik.

3. Buat Agenda Kerja

Rencanakan jangka waktu penyelesaian penulisan Anda dan disiplinlah. Misalnya Anda ingin membuat novel dan memerlukan waktu satu bulan. Maka bisa dimulai dari penetapan tema, alur, sinopsis, dan outline dalam jangka waktu tertentu. Selama tiga hari misalnya. Lalu proses selanjutnya menulis bab selama dua minggu misalnya dll. Begitu juga penulisan non-fiksi, buat agenda kerja mulai dari pengumpulan informasi, kutipan, riset, hingga penulisan bab, mengedit, dan menyerahkan ke penerbit.

4. Buat Sinopsis

Sinopsis merupakan rangkuman karya yang ditulis. Sinopsis fiksi berisikan awal cerita, konflik atau perjuangan, dan akhir masalah, sedangkan sinopsis non-fiksi menceritakan latar belakang kepenulisan, masalah yang diangkat, dan ringkasan isi bab.

5. Diskusikan Karya

Sebelum dikirimkan ke penerbit, ada baiknya minta teman Anda untuk membaca hasil karya Anda. Hargai masukan dari teman Anda karena sebagai pembaca pertama, dia memegang kunci penting apakah tulisan Anda dimengerti. Terkadang, ada tulisan yang bagus tetapi diksi yang dipakai tidak umum sehingga terlalu sulit dimengerti.

6. Nothing to Lose

Setelah itu, kirimkan naskah ke penerbit dengan hati yang ceria. Jangan bebani diri agar tulisan itu diterima dan diterbitkan. Banyak penulis besar yang mengalami penolakan dalam kariernya. Jadi jangan pernah berkecil hati.

foto oleh mhc-training.com

Menerjemahkan tidak sama dengan mengalihkan kata. Ini bedanya

Pernah mendengar ada yang bilang mengandalkan Google Translate untuk menerjemahkan tugas atau pekerjaan mereka ketimbang menyewa jasa seorang penerjemah? Hati-hati loh karena keduanya sungguh mengemban misi yang berbeda.

Kita bisa mengandalkan Google Translate atau situs lainnya untuk mencari arti sebuah kata, sinonim atau antonim. Istilahnya, memakai situs tersebut memang menghemat waktu daripada kita harus membuka lembaran kamus super tebal satu per satu. Oxford Dictionary dan Merriam Webster juga sudah merambah dunia maya untuk mengakomodir mereka yang membutuhkan kamus-kamus tersebut. Jadi menggunakan situs-situs di atas sama dengan menggunakan kamus.

Akan tetapi, menerjemahkan memakai Google Translate atau sejenisnya? Hmm.. kami tidak menyarankan hal tersebut. Hal ini dikarenakan menerjemahkan sebenarnya sangat jauh dari proses mengalih kata atau mengalih kalimatkan suatu teks asli.

Dalam prosesnya, menerjemahkan merupakan suatu keahlian yang cukup kompleks, apalagi jika sudah memperoleh tugas menerjemahkan fiksi, puisi atau drama. Tak cukup mengetahui arti katanya saja, seorang penerjemah harus bisa menyeleraskannya dengan kalimat-kalimat sebelumnya agar kata yang dipilih pas. Belum lagi, penerjemah biasanya akan menemukan tugas yang lebih pelik, yakni lokalisasi alias menemukan arti yang tepat dari bahasa asal ke bahasa target.

Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia kita mengenal sosialisasi. Tetapi kata tersebut kurang pas diterjemahkan menjadi socialization sebab pembaca berbahasa Inggris kurang paham sehingga lebih pas bila memilh kata public campaign.

Menyesuaikan kata terjemahan dengan budaya bahasa target membutuhkan kerja di luar teknis terkait bahasa itu sendiri. Banyak membaca dan berdiskusi dengan rekan sesama penerjemah patut dilakukan agar penerjemahan bisa pas masuk di budaya dan pemahaman bahasa target. Hal ini juga berlaku pula untuk budaya Barat jika memperoleh pekerjaan atau project dari bahasa Indonesia atau bahasa lainnya ke bahasa Inggris.

Menerjemahkan fiksi atau puisi lebih kompleks lagi. Dalam hal ini, seorang penerjemah membutuhkan diri mereka untuk mengasah nurani dan hati agar hasil terjemahan luwes, ekspresif dan tidak kaku. Lagi-lagi, diperlukan belajar dan banyak membaca contoh hasil terjemahan di luar waktu bekerja agar hasil penerjemahan bisa indah dan puitis, tidak kalah dari puisi aslinya.

Walhasil, menerjemahkan merangkumkan banyak keahlian yang harus terus diasah di luar jam kerja. Kesemuanya akan berguna untuk jenis teks asli yang berbeda. Jadi, masih mau bilang menerjemahkan via Google Translate bisa menggantikan profesi penerjemah yang berkualitas?

Apa itu menulis kreatif?

Menulis kreatif dalam beberapa tahun terakhir digandrungi oleh masyarakat. Berkat populernya media sosial yang memajang visual sekaligus caption unik, publik mulai ingin mengetahui bagaimana si empunya akun dapat menulis sebagus tersebut. Atau cara memajang kemampuan menulis kreatif dapat terlihat pula melalui konten video, baik di media sosial mau pun YouTube.

Dengan maraknya beragam cara memamerkan kepiawaian menulis, entah serius atau ringan, subyek menulis kreatif menjadi memperoleh perhatian dengan sendirinya. Padahal kelas menulis kreatif sendiri di luar negeri sudah lama menjadi jurusan bagi mahasiswa pada banyak universitas.

Lalu, apa sebenarnya menulis kreatif tersebut? Apa yang membuat tulisan disebut kreatif?

Seperti halnya kata sifat lainnya, kata “kreatif” secara harfiah bisa mengandung multi makna. Kreatif menurut si A belum tentu dirasakan sama oleh si B. Si C mungkin malah menganggapnya biasa saja.

Tulisan yang kreatif memadukan banyak unsur dengan teknik kepenulisan yang cukup kompleks. Sebagai contoh, anda ingin menulis kreatif yang pada intinya mengkritisi suatu kebijakan pemerintah atau fenomena sosial.

Usai mengambil tema tersebut, penulis kreatif dan yang bukan akan mempunyai alat atau metode yang berbeda yang pada akhirnya menghasilkan tulisan dengan label yang berbeda pula bagi pembacanya, kreatif atau biasa saja.

Dalam tema yang sudah diputuskan, untuk menjadikannya sebagai tulisan kreatif penulis biasanya akan mengambil satu sudut pandang lalu mendukungnya dengan beragam cara. Ada yang mengambil contoh kasus yang pernah terjadi, pendapat pakar yang ahli di bidang tersebut, hingga teori yang mendasarinya.

Sudah begitu, penulis yang kreatif juga mempunyai cara penyajian tulisan yang berbeda. Dia bisa memulai tulisan dengan gaya bahasa kocak, pengandaian, imajinatif dan sebagainya.

Mengeksekusi kesemua teori di atas membutuhkan latihan dan praktek yang tidak gampang. Meski terlihat mudah di permukaan, nyatanya menulis kreatif mewajibkan penulis atau peminat jenis tulisan ini untuk terus mengembangkan diri, banyak membaca dan peka terhadap kondisi sekitar.

Riset teknik penulisan wajib pula dilakukan agar hasil tulisan kreatif akan segar, tidak terkotak hanya pada satu tipe gaya saja. Pada akhirnya, menulis kreatif yang tampak bebas sebenarnya mempersyaratkan imajinasi yang bertanggung jawab dan pengetahuan luas agar kreativitas tersebut memang layak diperhitungkan, bukan sekadar asal ngomong.

Foto oleh studybreaks.com

Advertisements
Create your website at WordPress.com
Get started